Artikel

Mencintai Pendidikan

MENCINTAI & MENSIASATI  BELAJAR

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Pada berondongan tulisan berikut ini, saya mau menyodorkan sebuah untaian pengalaman sendiri tentang bagaimana menumbuh-kembangkan kecintaan belajar dan sekaligus menerapkannya dengan siasat-siasat yang operasional. Maafkan daku bila menimbulkan kesan tidak ilmiah.

01. Ketika masih duduk di bangku SMP Negeri (1968-1970), di kotaku Muntilan Jateng sana, kepada kami sudah diperkenalkan suatu semboyan berbahasa Latin, “EX LIBRIS”, yang artinya: (a) mencintai membaca buku-buku, dan (b) menjadi kolektor buku-buku bermutu. Semboyan ini muncul dalam sejarah Eropa, yakni ketika alat-alat percetakan ditemukan. Pada slebor sepedaku semboyan itu kutulis. Tidak lama kemudian, semboyan lain juga mulai kukenal ialah: “The experience is the best teacher,” dan juga pernyataan Thomas Alfa Edison, si penemu wolfram, yang kurang lebih mengatakan, “Satu % teori dan 99% selebihnya praktek,” lalu ketika belajar bahasa Jerman di Seminari Menengah ungkapan “Übungen macht den Meister”(= melalui latihan manusia belajar) juga diperkenalkan. Ketika mesti menyelesaikan berbagai macam tugas dalam kurun waktu yang relatif singkat, yakni ketika menulis tesis doktorandus pada tahun 1982 dan tesis Licensiat pada tahun 1986,

kuyakinkan pada diri sendiri, “Gerak cepat a la Samurai”, yakni suatu seni memainkan pedang samurai> dalam hitungan detik berapa kali seorang samurai melakukan sabetan pedang yang terarah. Dan seterusnya…….., sehingga soal cara belajar adalah bagian yang tidak statis, tetapi berkembang sesuai dengan irama hidup “aksi-refleksi, refleksi-aksi…”, yang adalah kekhasan kita sebagai manusia.

            Berangkat dari semboyan-semboyan semacam itu sosok kepribadian yang ditandai oleh kecintaan untuk membaca, untuk mengkoleksi buku-buku dan kemudian juga untuk “clipping” untuk mencari pengalaman, untuk berpraktek daripada berteori banyak-banyak, dlsb. mulai terbangun. “Koma!” dan bukan “Titik!”

 

02. Segi lain yang tidak kalah pentingnya untuk mengembangkan kecintaan membaca dan sekaligus menentukan siasat belajar yang komprehensif ialah faham yang mendasar tentang segi-segi kepribadian kita. Bila kita hendak memakai istilah filsafat atau kebudayaan kita sebut: dasar antropologis keberadaan dan keaktifan kita. Untuk yang satu ini telah banyak masukan yang memperkaya diri saya/kita. Sebelum mulai kuliah di Yogyakarta tahun 1975, telah kulalap buku cetakan Balai Pustaka, “Cara Belajar Effektif”, (pengarangnya saya lupa, tetapi seorang Tionghoa), dan beberapa tahun kemudian Cipta Loka Caraka juga menerbitkan buku serupa.

            Ada segi-segi yang mesti diperhatikan secara komprehensif bila kita hendak maju secara lengkap. Pertama, kepribadian kita secara garis besar dibagi dalam tiga dimensi: 1.Cognitif; 2. Psiko-motorik; dan 3. Affektif. (Tentang ini para paedagog telah menggaris-bawahi banyak). Bila kita hendak memberi kesempatan kepada ketiga aspek itu secara seimbang, maka jelas dalam kurun waktu 24 jam per 1 hari, kita tidak boleh melupakan ketiganya untuk diberi kesempatan bertumbuh-berkembang. Dari Kitab Suci, khususnya ketika kita sedang mencermati “The Golden Rule” alias “Perintah Utama”, kita pun diberi arah untuk berkembang secara ‘holistic’. Mari kita simak sebentar pada kutipan berikut ini:

 

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”  (Mrk 12: 30)

 

Mateus tidak menyebut ke-4 aspek tersebut, tetapi cuma tiga, yaitu hati, jiwa dan akal-budi. Mengapa? Tanyakan pada ahli kitab! Kuntjaraningrat, ahli antropologi-budaya, tidak kurang cermatnya, ketika mesti mendefinisikan apa artinya kebudayaan. (Tolong dicek apa yang dia katakan!) Manusia sebagai subyek yang bisa berbudaya telah menjadi penentu utama arah-perkembangan diri dan dunia sekitarnya. Dalam hal ini tidak secara a priori ditentukan oleh agamanya. Bahkan ada seorang atheis yang bisa menceriterakan dengan sangat mengagumkan tentang seluk beluk antariksa yang mengelilingi kita ini. Dengan ini kita bisa mempertanyakan banyak tokoh sejarah, baik individu maupun kelompok, yang telah turut mengubah dunia ini, justru karena keberadaannya sebagai subyek budaya telah ditumbuh-kembangkan semaksimal mungkin. Kedua, meskipun kompleksnya keberadaan antropologis diri kita ini, tetapi kita juga ada dalam situasi “contingent”  (>dependent on conditions or occurrences not yet established; conditional.) Karenanya ada dua kemungkinan sebagai konsekuensi: 1. Kita masih mungkin untuk maju, karena tidak dikondisikan secara a priori bahwa kita ini telah berhenti berkembang atau secara otomatis berjalan seperti telah diciptakan dari sananya, seperti robot atau jam tangan, di mana Tuhan kita tempatkan sebagai “Demiurgos”; 2. Kita tidak sembarangan mengatur atau “memanage” keberadaan kita, yakni dengan akibat bahwa dalam situasi “contingent” potensialitas yang diandaikan muncul sebagai SDM (= Sumber Daya Manusia) yang “effective” dan sekaligus “efficacy” (jw. manjur atau ces-pleng), justru menjadi amburadul alias semrawut. Sangat beresiko tinggi bagi kita-kita yang suka belajar dengan system “kebut-semalam”, karena input dan output yang hendak diperlihatkan pada si penguji justru didasarkan pada kondisi yang tidak pasti. Oleh sebab itu, “memanage” perkembangan diri melalui kecintaan belajar, tidak bisa dilepaskan dengan strategi atau siasat belajar yang mengandaikan keteraturan dan sekaligus berkesinambungan di atas situasi “contingent” diri kita ini. (lihat beberapa cara yang saya sebutkan dalam nomor berikut). Ketiga, sinergi dari seluruh aspek keberadaan kita, seperti aspek cognitif, psiko-motorik dan affektif atau menurut Injil Markus ialah komponen hati, jiwa, akal-budi dan kekuatan, di dalam pewujudannya akan menghasilkan pancaran totalitas dari kepribadian kita. Dengan memakai peristilahan bela-diri a la Jepang, berarti kita mengembangan siasat “Samurai” sebagai “martial art” (> Relating to or connected with the armed forces or the profession of arms ), yang adalah sarat mutlak seseorang untuk diluluskan sebagai seorang samurai. Keempat, lingkungan atau “circumstance” kita belajar. Dalam arti luas, lingkungan bisa diartikan pada situasi atau kondisi umum di mana dan kapan manusia hidup. Misalnya, di sebuah negara yang menerapkan sistem totaliter, proses belajar-mengajar ada dalam arus ditentukan oleh kekuatan di luar diri kita sebagai subyek. Menurut kadar, yang bisa kita ukur sendiri, lingkungan di Indonesia pada umumnya masih diliputi oleh sistem seperti ini. Pembinaan yang bercorak “oppressive”  akan membuahkan manusia-manusia “cetakan”, yang siap “dipakai” oleh masyarakat yang otoriter karena tiranik. Karena itu, para paedagog atau ahli pendidikan, termasuk salah satunya Don Bosco dan teman-teman sejamannya, telah mengembangkan sistem “preventive” ( prae + venire > sebelum + datang).

Sistem “preventive” mengandaikan bahwa manusia adalah subyek utuh dengan potensialitas yang variatif kaya, sehingga bisa “mendahului” peristiwa-peristiwa mendatang. Ada tiga hal pokok untuk menerapkan sistem “preventive”: (1) Subyek bina yaitu kita yang sedang belajar ditempatkan dalam situasi bebas, yakni dalam artian yang benar “bebas untuk.....”, selain “bebas dari....”. Kebebasan adalah landasan antropologis yang dalam sistem “oppressive” totaliter telah dirampas, sementara dalam sistem “preventive” justru dijadikan dasarnya.; (2) Subyek bina dibawa kepada moralitas “bertanggung-jawab”, agar dapat mengisi makna “bebas untuk....” itu dengan tepat dan tidak sembarangan atau semena-mena. Karenanya infra-struktur dengan segala perlengkapannya dan lebih-lebih tantangan yang diorganisisr oleh komunitas bina akan sangat menentukan. Contoh konkret, agar subyek bina benar-benar bertumbuh-berkembang dalam kecintaan membaca, ya mesti ada perpustakaan dengan buku-buku yang selalu terbuka untuk dilengkapi; agar subyek bina mahir bermain sepak-bola, maka perlu dilengkapi dengan sarana-sarana yang mendukungnya; agar subyek bina bisa bertumbuh-berkembang dalam sosialitasnya, maka perlu dikondisikan dan sekaligus dicermati melalui belajar berorganisasi, hidup di dalam kelompok, dlsb. (3) Kondisi itu menjadi lengkap bila suasana “cinta-kasih” benar-benar meraja di dalamnya: subyek bina tidak takut untuk dihukum, tetapi tetap terbuka terhadap teguran atau kritikan yang membangun; para formator mendampingi para subyek bina seperti Bapa di Surga mencintai semua makluk ciptaanNya; dst.

            Lihat, saya telah memberikan beberapa catatan teoritis, yang adalah buah dari “the experience is the best teacher”, yang masih terbuka terhadap usaha penyempurnaan. Di lingkungan kita SCJ Indonesia, melalui “Ratio Formationis Provinciae” telah dikembangkan pendekatan visi antropologis yang bagus dan kaya: (1) Pada tahap  Seminari Menengah St.Paulus, Palembang, ditandaskan; “Lulusan Seminari Menengah adalah orang yang dewasa secara manusiawi dan kristiani sesuai dengan tingkatnya, berkembang seimbang dalam sanctitas, sanitas, scientia dan sosialitas.” (2) Pada tahap masa postulansi dan seterusnya, disebutkan aspek-aspek berikut ini:

·         Pembinaan Manusiawi- afektif

·         Pembinaan hidup komunitas.

·         Pembinaan Dehonian

·         Pembinaan Intlektual

·         Pembinaan Kerasulan

Dari sudut pandang teori, saya merasa bahwa kita kaya dengan bekal masukan. Sekarang bagaimana prakteknya? Untuk hal ini, kita diingatkan oleh Thomas Alfa Edison - ilmuwan tekun penemu wolfram atau tungsten, penghantar listrik tahan panas -- yakni, “Satu % teori, 99% sisanya adalah praktek.”

03. Pada nomor ini, marilah kita soroti praksisnya, sementara pada tingkat teoritis dapat kita lanjutkan dengan diskusi lebih lanjut.

 

03.1. Marilah kita berangkat dari skema berikut ini untuk melanjutkan upaya mencermati bagaimana cara menumbuh-kembangkan kecintaan dan siasat belajar kita.

 

Tiga aspek antropologis keberadaan kita.

 

Definisinya dlm bahasa Inggris.

 

Kata kerja yang berkaitan dengannya.

 

Contoh

 

 

COGNITION

 

 

 

The mental process or faculty of knowing, including aspects such as awareness, perception, reasoning, and judgment.

memikir, mengerti, memahami, mengingat, memberi alasan, menyadari, menilai, menimbang-nimbang, atau melakukan “discernment”, membayangkan, dlsb.

*Dia mengingat  (= re-cognize) peristiwa yang terjadi 10 tahun lalu; *Ia mengerti apa yang dikatakan oleh dosen; * Ia membayangkan rumah yang hendak dibangun.

 

PSYCHO-MOTOR

 

 

 

Of or relating to movement or muscular activity associated with mental processes.

 

meraba, berjalan, lari, menulis, mengetik, melihat, mengukir, menggambar, merangkul, dlsb.

* Dia mengetik dengan lancar; * Ditulisnya semua yang ia dengar; * Sambil bicara, ia menyetir mobil dengan lincahnya;

 

 

AFFECTION

 

 

 

A feeling or emotion as distinguished from cognition, thought, or action

mengaduh, menangis, marah, merasa sebal, merasa jengkel, bosan, rindu, cemas, dlsb.

* Ia (merasa) kecewa, karena tidak lulus; * Dia tangisi kekasihnya yang hilang.

 

 

 

03.2. Catatan: Pengembangan aspek “intelektualitas” tidaklah terpisahkan dengan soal bagaimana proses pemberdayaan dimensi “cognitive” dari diri kita. Dari dirinya kita ini disebut “makluk yang berakal-budi” (suatu istilah untuk mengenal siapa kita ini, yang berbeda dengan makluk-makluk yang lain). Bila kata “intellectus” dipakai, yang dimaksud ialah bukan perasaan ataupun emosi, tetapi tingkat kemampuan mental manusia untuk berfikir. Sementara itu bila kata “cognitio” kita pakai, yang dimaksud adalah proses memahami, mengerti, mengingat, memberikan penilaian, mengotak-atik persoalan, dlsb. Kemampuan cognitif-intelektual ini dalam sejarah perkembangan manusia pernah, dan masih demikian,  ditempatkan sebagai kemampuan yang “tertinggi” dengan penyimbolannya dengan “IQ” > Intelligence Quotient. Maka orang bilang, “Oih, IQ-nya tingi lho.” Pada akhir-akhir ini “IQ” diimbangi oleh “EQ” > Emotional Quotient, suatu faktor dominan yang juga turut menentukan keberhasilan seseorang.

Sayang bahwa visi yang terfokus pada IQ masih dominan. Lebih buruk lagi, bahwa pendidikan di Indonesia tidak cermat dan juga kurang memberikan perhatian untuk aspek psiko-motorik dan emosional. Untuk yang ke-2 secara tajam dapat kita lihat pada tekanan pembinaan intelektualitas, dengan menyelenggarakan Sekolah-Sekolah Umum dan sedikit sekali Kejuruan, yang menekankan praktek. Untuk masuk ke kesekolah-sekolah kejuruan, dirasa hanya bagi yang kurang IQ-nya.

 

03.3.    Dari pengalaman, saya pernah berupaya membuat daftar pencapaian upaya belajar yang dapat saya kontrol sendiri, apakah saya sudah melakukan atau belum dan berapa jam atau menit saya telah melakukannya. Lihat, daftar berikut ini:

 

A. Berkaitan dengan mata kuliah dari satu semestre (aspek cognitive):

 

Mata kuliah

                       

                Hari

Frekuensi belajar per hari, per berapa menit setiap mata kuliah?

S

S

R

K

J

S

M

S

S

R

K

J

S

M

S

S

R

K

J

S

M

S

1.Epistemologi

X

 

X

 

X

 

 

X

 

X

 

X

 

 

X

 

X

 

X

 

 

 

2.Pengantar Perjanjian Lama

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

3.Filsafat Manusia.

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

4. Sejarah Gereja.

X

 

 

X

 

 

X

 

 

X

 

 

X

 

 

X

 

 

X

 

 

X

5.Bahasa Inggris.

X

X

X

X

X

X

 

X

X

X

X

X

X

 

X

X

X

X

X

X

 

X

6.Sejarah Filsafat.

 

X

 

 

X

 

 

 

X

 

X

 

 

 

X

 

 

X

 

 

 

 

7.Katekese.

X

 

X

 

 

X

 

 

X

 

X

 

X

 

 

 

X

 

 

X

 

 

8.Filsafat Kebudayaan.

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

Catatan: Jadwal dan alat untuk mengecek ini, dibuat secara progresif, artinya (1) dari diri sendiri mesti mempunyai rencana, dan (2) setelah selesai melaksanakan rencana, sendiri memberi tanda “X” pada bahan mata kuliah yang telah dipelajari pada hari itu. Dengan cara demikian dihindari penumpukan waktu untuk mempelajari mata kuliah hanya pada saat-saat mau ujian. Cara ini, berarti kita sendiri mengambil sikap manusiawi terhadap diri sendiri. Meskipun di sin dicantumkan bahan-bahan studi yang sifatnya abstrak, tetapi aspek psiko-motorik dan emosionalitas juga kita atur. Contoh: pada hari Minggu, waktu belajarnya sedikit, karena kita mau memberi tempat kepada ‘tubuh’ untuk istirahat atau memberi kepada aspek lain untuk berkembang, misalnya ‘mengontrol sepeda’, ‘merapikan kamar’, ‘cukur rambut’, dslb.

 

B. Berkaitan dengan ketrampilan (psiko-motorik):

 

            Aspek ini tidak memerlukan alat seperti di atas pana nomor A. Tetapi, tetaplah perlu untuk disebutkan, ketrampilan mana yang hendak dicapai.

Misalnya:

  1. Kecepatan mengetik dengan sepuluh jari.

  2. Ketrampilan berbicara di muka umum.

  3. Ketrampilan ber-relasi dengan sesama dengan memandang matanya.

  4. Menguasai badanku dan bereaksi dengan gerak reflex bila ada serangan atau gangguan mendadak menimpa tubuh kita (seni bela diri mengajari soal ini).

  5. Berjalan tenang tanpa menimbulkan suara.

  6. Ketrampilan menjadi ‘moderator’ dalam acara debat atau sharing.

  7. Ketrampilan memasak, membuat kopi, menulis, membaca, mempergunakan buku-buku referensi seperti ensiklopedia, kamus, membuat catatan dengan kartu tik, dslb.

 

C. Berkaitan dengan pengembangan emosionalitas.   

 

            Catatan: di Indonesia patut disayangkan bahwa soal ini tidak mendapatkan perhatian yang teliti. Karena itu dibawah kalimat imperatif, “Jangan emosi!” – menurut hemat saya – telah dibunuh segi-segi emosionalitas lain. Dan kemudian dibawah kata “amok”, emosionalitas ditekan meledak dalam skala massive dan destruktive. Karena itu, saya lebih peduli bahwa soal emosionalitas pun perlu dididik dengan tepat. Untuk itu, ketrampilan “memanggil” perasaan-perasaan dan sekaligus “membiarkan” perasaan-perasaan keluar dari diri kita amatlah perlu dikembangakan.

 

Misalnya:

  1. Memanggil rasa sedih dan menghayatinya, dengan mengatakan, “Saya merasa Sedih!”.

  2. Katakan pada diri sendiri, “Goblok!” tanpa tersinggung, karena ada alasan rasional, yang ditemukan pada diri kita, yang memang patut diberi nama “Goblok!”.

  3. Menulis sebuah puisi atau buku harian secara teratur untuk mencurahkan perasaan-perasaan yang ada pada saat itu, hari itu, adalah bagian dari kepribadian kita.

  4. Nonton sirkus, lawak; mendaki gunung, pergi ke pantai, dlsb. memungkinkan kita untuk berkembang secara emosional.

  5. Pemeriksaaan batin, yang diakhiri dengan mengaku dosa atau berdoa tobat secara teratur adalah kesempatan menjadi “tuan untuk dirinya sendiri”, karena mampu menghandel diri di bawah terang rahmat ilahi. Dlsb.

 

03.4. Kesimpulan: Pada bagian ini mencintai dan mensiasati belajar melalui praksis konkret, untuk masing-masing orang menjadi berbeda dan tidak bisa digeneralisir sama. Karena ada faktor-faktor kepribadian yang turut berperan, seperti kesehatan mata, kedaya-tahanan tubuh untuk duduk, daya kemampuan bagian otak untuk mengingat, dlsb. Saya cenderung untuk mengatakan bahwa ibarat computerlah diri kita, maka kita sendirilah yang tahu memperlakukan diri kita, juga termasuk menghindari virus dari luar.

 

 

04. Kondisi serta situasi belajar di lingkungan kita (seminari, novisiat, skolastikat, dan untuk bina lanjut untuk komunitas-kemunitas) memang perlu dicermati benar-benar, agar kita bisa memperbaiki, meningkatkan dan menghasilkan buah.

            Para calon dosen, misalnya, yang sekarang ini diberi kesempaan untuk mengambil spesialisasi dengan gelar diplom, rmaster, lisensiat bahkan doktor, perlulah bertumbuh-berkembang sesuai dengan tuntutan nanti. Mereka bukan cuma hendak memberikan kembali “in put” yang pernah diperoleh, tetapi lebih dari itu mengetahui “seni” mengajar alias menjadi seorang “formator”. Sebab yang hendak ditransfer bukan melulu pada tingkat intelegensi, tetapi menyangkut seluruh kepribadian seseorang, dalam hal ini “orang dewasa” di lingkungan pendidikan, kepada para “formandi”, yang lazim disebut “sedang menuju ke kedewasaan.” Karena itu, kepribadian yang utuh alias “integrative” diperlukan. Bukan orang, yang bisa mengatakan “A”, tetapi melakukan “B”. Dan untuk ini, sebaiknya pada saat menjalankan spesialisasi, si calon diberi masa interval barang setahun dua tahun untuk “mempraktekkan” kemungkinannya menjadi dosen. Dan ini berarti mengetes soal kemampuan psiko-motorik dan kemantaban emosionalitasnya.

          

 

Oktober 2002.  

NB. Tulisan ini telah diedit seperlunya dari naskah aslinya.