Artikel

Hal Sederhana

    Pagi yang cerah memberi tanda bahwa hari ini penuh dengan harapan. Aku terbangun dari kenyamanan pulau kapuk sambil melipat kaki kubuat tanda kemenangan. Segera aku membereskan segalanya dan bergegas mandi karena matahari telah beranjak dari tempatnya. Memohon berkat dari Tuhan agar diberi berkat sembari menyematkan tas selempang dibahu dengan segenggam semangat menuntu ilmu demi sebuah cita-cita.

  

Setiap pagi aku berangkat kesekolah dengan menumpang sebuah mobil truk DISTAKO (Dinas Tata Kota). Jalan-jalan dan lorong-lorong yang kulalui mempertemukan aku dengan para penjual Koran yang sejak subuh telah mangkal diterminalnya. sejauh mata memandang terlihat para penjual Koran yang sedang menjajakkan Koran sambil menundukkan kepala dan menyapa setiap orang yang ditemuinya.
    “Korannya-koran, korannya Pak?, beritannya masih hangat lho pak!”. Sambil memperlihatkan senyumannya. Melihat itu semua kulambaikan tangan kepada setiap penjual Koran yang sudah kuanggap sebagai saudara yang setiap harinya kutemui. Labaian tangan dan setiap senyuman yang terlukiskan di wajah setiap penjual Koran yang kuterima hendak mengatakan “Inilah hari yang indah untuk dilalui”.
    Kulihat jam dengan mempercepat langkah kaki sampailah aku dipesimpangan jalan dan tepat seperti dugaanku truk kuning betuliskan DISTAKO mulai muncul menunjukkan sosoknya. Seketika itu aku melambaikan tangan dan berhentilah sang supir dari jendela aku melihat wajah pak supir. “Pagi Pak, bolehkah saya menumpang truk ini sampai kesekolah”. Pintaku sambil menyunggingkan senyuman. Kulihat wajah pak supir yang memberikan senyuman sekaligus anggukan yang menjadi tanda bahwa aku boleh menumpang mobil DISTAKO sampai kesekolah.
    Dengan sigap aku langsung menaiki mobil truk menjadi semacam kernet yang menggantung disamping badan mobil. Sembari melihat suasana kota aku melihat para pengamen dengan gitar kesayangannya sedang memainkan sebuah yang menyejukkan hati.     Dengan penuh semangat aku melambaikan tangan pada setiap pengamen. Disadari ataupun tidak telah menghibur ribuan orang dengan masuk kemobil yang satu dan mobil yang lain pikirku. Langsung saja disambut dengan lambaian tangan dan seyuman.
    Tak terasa persimpangan jalan menuju sekolah telah terlihat, dengan sigap aku meloncat dari truk dan melambaikan tangan sembari mengucapkan terima kasih terhadap pak supir. Kini jalan menuju sekolah sudah semakin dekat kira-kira 3 km lagi dari jalan setapak yang kulalui. Sambil melangkahkan kaki, dari kejauhan kulihat seorang kakek dengan kaus coklatnya memikul dua buah nampan yang diikatkan pada sebuah tongkat. Tak berselang lama kakek tua itu meletakkan  pikulan dan bersandar dibawah pohon yang rindang sambil mengibaskan topi yang dibawanya. “Pasti kakek itu kelelahan dilihat dari raut wajahnya aku sudah bisa menebaknya”, pikirku. Dengan cepat aku bergegas menghampirinya yang duduk seorang diri.
    Tangan kuulurkan terlebih dahulu hingga sang kakek memberhentikan kibasan topinya. Dengan suara pelan aku memberanikan diri mengucapkan kata-kata. “Selamat pagi Pak” sapaku sambil memberikan senyuman meski aku ragu untuk mengucapkan salam tersebut. Diluar dugaan tak lama kemudian sang kakek melemparkan senyum yang khas beserta anggukan, “Selamat pagi juga Dek”, ucap kakek seraya menyeka air mukanya. “Bagaimana dengan dengan pekerjaan Bapak pagi ini?”, tanyaku kepadanya. “Sudah dari subuh kakek berkeliling menjajakan kue kesetiap rumah yang kakek lewati banyak sudah orang yang sudah merasakan nikmatnya kue kakek.. sungguh bahagianya kakek bisa berbagi kebahagiaan kepada orang lain. kini saatnya kakek beristirahat sejenak untuk melepas penat karena kakek sudah cukup jauh menyusuri setap tempat”, ucap sang kakek sambil menebar senyuman.
    Wah besar sekali semangat yang dimiliki kakek ini, kakek ini saja bisa seperti ini masak aku tidak? pikirku dalam hati. Ketika melihat jam tangan yang menunjukkan jarum pendek masih diangka 06.15 WIB, dengan penuh keyakinan aku memberanikan diri memberikan bantuan pada sang kakek. “kakek saya ingin membantu kakek, boleh tidak? karena jalan yang kakek lalui sama dengan jalan menuju sekolah yang hendak aku tuju. aku memandang wajah sang kakek didalamnya terlukis sebuah senyuman tanda sang kakek memperbolehkan aku untuk mebantunya.
    Lalu kuraih tongkat penyangga dan mulai kupikul dan sang kakek pun segera berjalan bersamaku.  Selama diperjalanan aku memberikan seyuman pada setiap orang yang aku temui dan menawarkan kue yang sedang kubawa. “Pagi Mas, Mbak mau sarapan kuenya masih hangat lho?”. Kemudian kue-kue yang kubawa segera dibeli oleh orang-orang yang kutemui. Senang rasanya bisa membantu sang kakek apalagi melihat senyuman yang terlukis diwajah sang kakek.
    Ketika bercerita dengan sang kakek aku disadarkan dengan seorang anak kecil sedang duduk termenung didepan teras rumah sendirian. Wajahku yang melihat itu semua kemudian menoleh kearah sang kakek. Sang kakek yang mengerti maksudku langsung memberikan senyuman dan anggukan kepadaku. Seketika itu aku membalas senyum sang kakek dan mengambil sebagian kue dari nampan yang kubawa. Kemudian aku beranjak menuju ketempat anak itu duduk dan dengan senyuman aku memberikan sedikit kue yang kubawa kepada anak tersebut. “Ini untuk Adik, jangan sedih lagi ya”. Seketika itu wajah sang anak tidak murung lagi dan mulai menunjukkan giginya. Akupun melangkah pergi meninggalkannya,“Terimakasih Kak” jawab anak tersebut sambil melambaikan tangan.
    Tak lama kemudian sampailah aku didepan sekolah yang kutuju lalu aku berpamitan dengan kakek dan mengucapkan terimakasih kerena sudah diperbolehkan membantunya. Sambil berjalan aku berpikir ternyata aku mampu memberikan sesuatu yang labih dalam diriku bagi orang lain.  sesuatu yang hanya dianggap kecil seperti senyuman, bagi sebagian orang ini merupakan hal yang biasa tetapi bagiku senyuman dan sapaan adalah tindakan sederhana yang memiliki kekuatan besar dan mampu merubah kehidupan.

By: Daniel Adi Widodo