Artikel

panggilan

PANGGILAN

«Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”» (Mrk 10,21)

  «Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.» (Ibr 11,8)

 

   

Pengantar

Panggilan yang pertama dan utama adalah panggilan untuk hidup. Masing-masing kita dipanggil Tuhan untuk hidup, untuk menjadi seperti Kristus dengan suatu perjalanan yang tertentu, menuju kesucian diri dan bersama orang lain; untuk tinggal berada dalam suatu komunitas yakni Gereja. Dalam kesemuanya itu, inisiatif yang selalu berasal dari Allah. Dia yang memanggil lebih dahulu. Maka panggilan tiap orang juga berasal secara istimewa dari karya Allah terhadap masing-masing pribadi. Namun cinta Allah yang demikian besar itu menghendaki suatu jawaban cinta yang besar juga. Demikianlah, panggilan terpenuhi ketika manusia menempatkan diri dalam dialog dengan Allah, berusaha memahami apa yang Dia kehendaki, dan berusaha untuk memenuhi rencana Bapa yang diperuntukkan baginya. Rencana kasih Allah itu sedikit demi sedikit menjadi nyata, mengambil bentuk, sampai terpenuhilah rencana Allah, hadir di antara kita.  

Lalu apakah panggilan itu?

Jelaslah bahwa tokoh utama dalam panggilan adalah Allah sendiri. Oleh karena itu panggilan merupakan suatu pilihan dari pihak Allah. Dia, dengan inisiatifnya sendiri, membuka diri kepada manusia; memilihnya sejak dalam kandungannya; membimbingnya serta senantiasa hadir-menyertai dalam hidup, bagaimanapun bentuk hidupnya: dalam kemiskinan, kekayaan, dalam kegembiraan, dalam duka dan derita, dalam perang atau damai dan ketenangan. Allah memilihnya untuk suatu martabat, yakni sebagai manusia, suatu nilai yang besar dan berharga dalam pandanganNya.

Panggilan merupakan suatu penciptaan. Karena Allah memanggil dengan nama, yang berarti bahwa masing-masing pribadi diciptakan sesuai dengan rencana kehidupan yang tertentu, secara unik dan personal baginya. Maka panggilan bukanlah sesuatu yang asing dari suatu pribadi, yang datang dari luar, namun sesuatu interior, dan tertulis di dalam diri masing-masing pribadi oleh Allah yang menjalin relasi mendasar dan khusus dengan setiap orang.

Panggilan adalah suatu kenyataan yang berubah. Allah memang senantiasa memanggil, tiap detik kehidupan manusia, oleh karena itu dibangun suatu dialog terus menerus antara Yang memanggil dan yang menjawab. Dialog dengan Allah mempunyai saat awal, namun berakhir dalam kekekalan, maka setiap orang berkembang dan menjadi dewasa dalam proses jawabannya akan panggilan Allah, dengan berkembang dan menjadi dewasa dalam kepekaannya, dalam kebaikan hatinya, dalam kesiap-sediaannya untuk mencintai dan melayani saudara-saudarinya.

Panggilan merupakan suatu anugerah umum; karena Allah tidak memberikannya kepada seseorang saja, yang secara kebetulan memiliki ciri-ciri tertentu. Allah memanggil semua manusia, maka kamu juga harus merasa bertanggungjawab untuk mengenal dan menyingkapkan panggilanmu.

Panggilan adalah suatu missi. Tiap orang dipanggil Allah untuk menjadi tanda yang hidup akan cintaNya di antara manusia. Maka kita semua hendaknya merasa diutus untuk melayani saudara-saudari, dengan memberikan hidup tanpa batas.  

Lantas apa yang bukan panggilan?

Masing-masing kita dipanggil kepada suatu martabat luhur: menjalin relasi cinta dengan Allah dan menjadi partnernya yang setia.

Panggilan bukanlah terutama suatu pekerjaan. Allah tidak memanggil untuk “membuat sesuatu” namun memanggil untuk “menjadi seseorang”, untuk menjadi seperti Kristus. Oleh karena itu setiap kali kita dibebaskan dari dosa dengan sakramen rekonsiliasi, dari dunia dan dari semua perbudakan. Maka seorang kristen adalah “orang bebas”, pertama-tama untuk menjadi pribadi yang lalu terpanggil untuk melayani dan mencintai.

Panggilan tidak mengandaikan sembarang jawaban, karena Allah menghendaki bahwa tiap muridnya menjawab panggilan itu secara sungguh-sungguh. Jalan menuju jawaban yang sungguh itu telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri, yakni kesempurnaan. Maka tiap-tiap orang dipanggil untuk menghayati panggilannya dengan cara masing-masing juga, dengan berpedoman kepada kesempurnaan Yesus sendiri sebagaimana terdapat dalam Injil.  

Siapa yang memiliki panggilan?

Tak seorangpun bisa mengatakan: «Aku tidak punya panggilan», karena panggilan Allah adalah untuk semua. Ada panggilan umum, yakni merealisasikan rencana Allah. Ada juga panggilan khusus, yakni yang merupakan unsur penting dalam hidup dan missi Gereja. Dalam Gereja ada uskup, imam, diakon, awam, keluarga, katekis, mudika, dan sebagainya. Masing-masing merupakan wujud dari penggandaan anugerah yang dikerjakan Yesus,  tanda kasihNya terhadap dunia. Tak seorangpun lebih besar dan lebih baik; masing-masing memerlukan yang lain untuk hidup dan semua perlu saling melayani agar menjadi murid Yesus yang sejati.  

Kesimpulan

Oleh karena itu, panggilan merupakan suatu anugerah Allah yang membawa suatu kepercayaan; Dia tetap setia akan perjanjian yang diadakan dengan setiap orang, yang tidak akan menipu kepada orang yang mempercayakan diri kepadaNya. Panggilan adalah suatu anugerah yang membawa kegembiraan dalam menyingkapkan keindahan dan keaslian masing-masing dalam hidup harian. Allah memanggil setiap hari, dan setiap hari pula menantikan jawaban cinta. Panggilan merupakan anugerah Allah bagi orang pendosa, maka juga sebagai jalan pertobatan, juga dengan melalui suatu penderitaan dan salib. Namun lebih-lebih jalan pembebasan, karena membawa pada pengosongan diri dan dari egoismenya untuk mempersembahkan diri dan masuk dalam relasi kasih dengan Bapa yang tak memiliki kesudahan.