Artikel

seminari

S E M I N A R I  M E N E N G A H

 

Pengantar

Keberadaan Seminari Menengah di beberapa negara nampaknya semakin hari semakin menghilang seiring dengan semakin sedikitnya orang-orang muda yang berani membuka diri akan anugerah panggilan khusus. Bahkan di banyak negara Eropa, Seminari Menengah sudah tidak ada lagi. Demikian juga hampir tidak ada lagi tema-tema atau pembicaraan-pembicaraan berkenaan dengan Seminari Menengah. Namun bukankah tidak hanya di negara-negara Eropa? Nampaknya di Indonesiapun sudah mulai muncul nada-nada ketidakpedulian, kalau belum boleh dikatakan sebagai penolakan, terhadap keberadaan Seminari Menengah.

 

 

Ada orang, termasuk juga para imam dan biarawan-wati, yang memandang bahwa seminari menengah tidak lagi efektif sebagai lembaga yang menyemai panggilan. Tentu mereka ini tidak asal bicara, namun berdasarkan juga pertimbangan dan pengamatan akan “keberhasilan” seminari dalam menghasilkan calon-calon imam dan/atau biarawan, khususnya yang dibina sejak lulus SLTP. Para calon lulusan SLTA biasanya lebih dewasa dan matang dalam berpengalaman. Dan nampaknya prosentase yang jadi dari kelompok ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok yang dibina sejak kecil. Walaupun demikian kelompok ini sering juga masih “menghibur diri” dengan pendapat bahwa para eks-seminaris pun diharapkan dapat menjadi “umat” yang lebih. Namun tidak sedikit pula yang melihat bahwa bagaimanapun juga keberadaan seminari menengah tetaplah diperlukan dalam rangka pembinaan panggilan khusus. Mereka ini melihat bahwa bagaimanapun juga, kebanyakan orang yang telah dibina sejak lulus SLTP akan memiliki kualitas tertentu yang sangat sesuai dengan jiwa imamat.

Memang keberadaan Seminari Menengah baik secara iuridis-institusional maupun secara psiko-pedagogis atau juga secara praktisnya banyak mengundang perbedaan pendapat dan perdebatan. Ada kelompok yang berpendapat bahwa keberadaan Seminari Menengah secara iuridis-institusional-gerejani tidak punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu secara psiko-pedagogispun tidak sesuai lagi. Namun di lain pihak, masih banyak orang yang memandang perlu keberadaan Seminari Menengah, bahkan kalau bisa semakin dihidupkan kembali di banyak tempat. Keberadaan Seminari Menengah masih sangat relevan dan bisa dipertanggungjawabkan secara iuridis-institusional, bahkan secara psiko-pedagogis amatlah tepat.

Dan bagaimana kita sendiri memandangnya? Semoga pemaparan sederhana ini, yang diolah berdasarkan sebagian dari buku karangan Mgr. Ivan Peri, "I Seminari Oggi", bisa membantu kita untuk melihat permasalahan ini, dan yang lebih penting bisa lebih menggugah kembali keterlibatan kita dalam kehidupan Seminari Menengah.

 

I. HAKIKAT DAN TUJUAN

Tema tentang Seminari Menengah secara gamang disinggung dalam Optatam Totius. Berkaitan dengan tema Seminari Menengah, sejak awal diskusi sudah terjadi dua pendapat yang berlawanan berkaitan dengan hakikat dan tujuannya, serta tentang penggunaan istilah "seminari" dalam arti institusional.

            Tema yang sama juga dibicarakan dalam Konggres para Kanonici-Pastoral XV, tgl 13 September 1983 di Universitas Lateran dengan tema: "Formasi ke Status Klerikal". Penggunaan istilah "Seminari Menengah" dianggap tidak tepat dengan dua alasan:

*    antara seminari tinggi dan menengah hanya ada sedikit kesamaannya, juga dalam artian analogal;

*    seminari menengah bukanlah tempat untuk pemeliharaan panggilan. Di seminari menengah biasanya belum nampak panggilan khusus secara jelas, belum memadai dalam motivasi dan kematangan, namun kemungkinan panggilan itu baru dibangkitkan dan dekembangkan, sebagaimana disebutkan oleh KHK (234 § 1).

Akan tetapi menyatakan bahwa hanya seminari tinggilah yang boleh disebut sebagai seminari juga tidak terlalu tepat, sebab ambigu. Memang seminari tinggi dan menengah  seminari itu mempunyai tujuan serta sistem pendidikan yang jelas berbeda; namun tidak bisa disangkal juga bahwa dimensi panggilan sudah ada dalam dua institusi ini, tentu dengan cara dan kadar berbeda pula. Dengan alasan itulah maka seminari menengah secara substansial dibedakan dari sekolah-sekolah lainnya. Maka jelas bahwa seminari menengah juga harus dipandang sebagai suatu institusi panggilan, bukan sekedar suatu sekolah umum.

Juga dalam dokumen-dokumen setelah KHK, seminari menengah dipandang sebagai seminari dalam arti yang sesungguhnya, walaupun tidak dalam arti yang persis sama dengan seminari tinggi (OT, RF, Ratio Italiana). Merujuk pada KHK, Pastores Dabo Vobis, setelah mengatakan bahwa panggilan ke imamat biasanya berawal dari masa pra-remaja atau awal masa remaja, meminta kecermatan Gereja terhadap benih-benih panggilan yang tersemai dalam hati anak-anak, dengan memeliharanya melalui lembaga seminari menengah, dengan suatu perhatian dan dan pendampingan yang sungguh (bdk. 63).

Benar bahwa dalam periode sesudah KV II, seminari menengah mengalami suatu krisis berkepanjangan sekitar sifat esistensialnya, yakni aspek metodologi dan strutuktural. Seminari menengah berada dalam persimpangan konflik yang menjengkelkan, lebih-lebih akibat perubahan kultural yang menghinggapi dunia kaum muda dan oleh gambaran akan figur dan identitas seorang imam. Dimulai suatu proses perubahan dan  pengalaman yang lebih mengacaukan, yakni yang menciptakan suatu iklim tak terarah dan ketidak-tenteraman. Dalam diri para seminaris sendiri sering timbul rasa kebingungan dan ketidak percayaan terhadap institusi ini. Tidak sedikit seminari yang bukan hanya kekurangan siswa, tetapi tutup.

 Ada juga beberapa hal yang mempengaruhi keberadaan seminari menengah, walau memang tidak terlalu besar pengaruhnya:

 a) Krisis iman yang banyak menggejala dalam keluarga-keluarga.

Keluarga-keluarga yang sungguh kristiani sering berpendapat bahwa mereka telah memiliki sarana dan kapasitas memadai untuk mendampingi remaja menuju kedewasaan. Maka memasukkan anak ke seminari hanyalah perlu kalau dalam keluarga sendiri tidak mungkin didapatkan pendidikan kristiani yang memadai.

b) Adanya suatu semacam keyakinan umum di antara beberapa imam dan pendidik, bahwa menurut mereka tidaklah bisa dipercaya suatu panggilan khusus muncul pada umur pra-remaja.

c) Ada penolakan dari tidak sedikit imam membuat promosi panggilan oleh karena tidak punya lagi keyakinan akan kemampuan dirinya menarik dan memahami dunia kaum muda.

d) Adanya suasana yang tidak menyukai semua program yang berbau evangilisasi.

e) Seminari menengah adalah semacam test obyektif tidak hanya dari suatu krisis, tetapi juga dari suatu pastoral panggilan sendiri yang memang masih baru dan belum terpahami dengan baik. Hal ini menjadi suatu test yang menyingkapkan efisiensi atau kekurangan suatu pastoral panggilan pada hakikatnya tidaklah mudah. Suatu pastoral panggilan mau tidak mau merefleksikan diri berdasar pada seminari menengah.

Sebelum mencari alasan yang mendasari dan mendukung seminari menengah, muncul pertanyaan apakah menguntungkan membuat suatu kursus panggilan secara eksplisit-resmi ke arah panggilan imamat dalam masa pra remaja dan remaja. Marilah kita mempertimbangkannya sungguh, kursus semacam itu lebih dalam taraf iman dari sekedar psiko-pedagogis dan pedagogis-pastoral. Jika tidak ingin mengingkari apa yang telah menjadi garis pemikiran Gereja, maka pembaharuan fungsi dan aktualitas seminari menengah hendaknya digarisbawahi dan dihidupkan kembali.

 

II. DASAR PEMIKIRAN

 1. Motivasi Iman

Karya Allah yang memanggil tidak boleh dibatasi dalam suatu tempat dan umur. Karya itu mampu merasuk, mengharmonisasikan, dan memotivasi setiap pilihan dan sikap dalam diri seseorang dalam segala lingkungan dan umur. Tuan kebun anggur memanggil kapan saja Dia mau. Sejarah Gereja telah memberi kesaksian terus menerus akan suatu panggilan, bahwa Tuhan memanggil juga dalam umur-umur yang masih sangat muda.

 2. Motivasi Psiko-pedagogis:

Manusia dipahami bagaikan suatu realitas dinamis, yang dibentuk secara bertahap kearah gambaran diri masa depan. Dalam masa kanak-kanak (8-10 th) sudah ada semacam gambaran akan masa depan, entah dalam taraf permainan maupun fantasi: "Kalau sudah besar aku ingin jadi........."

Dalam masa pra-remaja (11-13) anak sudah melewati masa infantil dan mulai masuk dalam fenomen penantian: mereka ingin mengalami banyak pilihan dan mencita-citakan berbagai profesi. Ini merupakan umur menghendaki banyak hal. Andaikan kenyataannya terjadi belum muncul cita-cita akan imamat, namun masih tetap ada harapan di antara banyak proyek masa depan dalam diri pra-remaja ini.

Dalam masa remaja (14-16) masih muncul kembali cita-cita hidup. Mereka berada dalam masa pencarian identitas diri, namun mulai mengutamakan pilihan tertentu, suatu ideal, juga andaikan cita-cita hidup itu dihayati dalam bentuk idealisasi. Mereka cenderung ingin menjadi "seseorang". Dalam masa remaja lebih lanjut (16-18) mulai terarah kepada suatu pilihan hidup konkret yang didasari oleh nilai-nilai tertentu.

Rencana hidup yang menggerakkan seseorang dalam suatu dinamika evolutif itu, perlu mendapat perhatian pendidikan yang memadai. Dalam pendidikan rencana hidup yang bervariasi itu, harus dimasuki pendidikan nilai yang mendasari rencana yang ada. Dalam semua situasi, haruslah ditanamkan secara tepat nilai-nila pokok, seperti kehendak untuk melayani orang lain, kemurahan hati, kesetiaan, dan rasa tanggung jawab. Terlebih dalam masa pra-remaja dan remaja hendaknya ditawarkan cita-cita dan nilai-nilai.

Dalam umur  tersebut tidaklah bijaksana "pensensoran" profesi atau kegiatan apapun, juga terhadap kemungkinan pada cita-cita imamat. Cita-cita imamat yang nampak dalam masa ini bisa muncul baru sebagai semacam energi awal dan menciptakan suatu vaseline bagi gerak psikis dalam dinamika evolutifnya, sedemikian rupa sehingga cita-cita imamat semakin nampak jelas secara bertahap dan harmonis dalam kepribadian yang berevolusi itu.

 3. Motivasi Pedagogis-pastoral.

Panggilan kristen secara mendasar muncul dari pembaptisan dan diaktualisasikan dan terspesifikasikan dalam panggilan yang bebeda-beda. Setiap orang dengan caranya tersendiri dipanggil menuju pada kesucian.

Pastoral panggilan berusaha untuk dengan cara tertentu membantu setiap orang kristen mengembangkan sejak dari masa kanak-kanak panggilan baptisannya, dengan memupuk persahabatan dengan Tuhan, dan membantu membuka panggilan khusus seseorang yang merupakan bentuk khusus dari panggilan baptisan tersebut.

Ajaran Gereja sendiri telah memberikan penegasan yang memuaskan terhadap perlunya pastoral panggilan tersebut, dengan menggarisbawahi perlunya kelangsungan seminari menengah, yang dipandang tepat untuk mendukung kebebasan otentik terhadap hidup dan terhadap anugerah Allah. Konsili Vatikan II sendiri menyatakan bahwa seminari menengah masih sah, untuk memupuk benih-benih panggilan ilahi dengan cara pendidikan keagamaan yang memadai dan bimbingan rohani yang berharga.

Konsili memang tidak menyinggung tentang keharusan adanya seminari menengah. Para Bapa Konsili mengajak melihat kenyataan bahwa di beberapa tempat memang tidak ada dan tidak mungkin adanya seminari, tetapi sekaligus memberikan berbagai inisiatif yang mendukung di mana masih ada seminari menengah, dengan menunjukkan aktualitas dan perlunya bentuk institusi ini. Beberapa keuskupan di berbagai negara yang sudah tidak memiliki seminari menengah, sejak beberapa tahun telah membuka kembali dengan beberapa penyesuaian; dan di mana institusi ini masih ada, telah diberi kembali gerak dan vitalitasnya.

KHK menyatakan keterkaitan secara erat antara tujuan seminari menengah - membangkitkan "pembinaan panggilan" 234 § 1- dengan sarana awal untuk untuk mencapai tujuan itu yakni "pendidikan riligius yang khusus", dan bimbingan rohani.

Masalah-masalah yang berkaitan dengan pandangan tidak tepat tentang seminari menengah, pada masa lampau, tidak selesai hanya dengan menutup seminari itu sendiri, atau dengan mengubahnya menjadi suatu sekolah umum atau malahan rumah jompo; sebaliknya justru dengan menyusunnya kembali untuk bisa memberikan pendidikan yang integral, dengan memperhatikan perkembangan personal dan kedewasaan panggilan setiap orang.

Bertolak dari perbedaan dasar yang ada di antara kebutuhan pedagogis yang berkaitan dengan perkembangan verifikasi dan kedewasaan panggilan, maka pusat-pusat pendidikan juga mengembangkan tugasnya dalam periode-periode distintif dan terbedakan. Discernment dan formasi awal panggilan imamat terjadi di seminari menengah. Kalau kemudian seseorang telah mencapai keadaan yang memadai bagi suatu pilihan yang lebih kurang definitif, maka terbukalah tahap akhir dalam persiapan ke seminari tinggi.

 Dari segi intellektual, seminari menengah merupakan persiapan humanistika dan ilmiah yang mendahului suatu studi imamat (filsafat-teologi); dengan mengikuti kurikulum SLTA.

Dari segi perkembangan, seminari hendaknya memperhatikan perkembangan normal masa pra-remaja, remaja, masa muda, yakni: periode masa berkembang (evolutif), yang membangun, mengarah dan menyiapkan diri terhadap suatu pilihan. Untuk memenuhi harapan tersebut, seminari menengah dibentuk sebagai komunitas remaja dan kaum muda dalam pencarian cita-cita hidupnya (panggilan).

Ratio Formationis dengan merujuk pada Optatam Totius, menyatakan bahwa tujuan seminari menengah: "membantu kaum muda, yang merasa memiliki benih-benih panggilan, untuk lebih mudah memahami panggilannya dan mampu menanggapinya". Seminari menengah merupakan lahan yang paling layak dan merupakan lingkungan istimewa yang paling sesuai dan mendukung bagi pertumbuhan pertama panggilan.

Maka tujuan pokok institusi ini untuk menyiapkan konsisi manusiawi dan kristiani yang memungkinkan kaum muda untuk memilih dengan bebas panggilannya, dan Gereja sendiri dapat melihat dalam diri para calon tanda-tanda panggilan yang (mungkin) ada. Panggilan yang mungkin ada di seminari menengah tidak harus dilihat sebagai suatu hal yang definitif dan hadir jelas dari permulaan; akan tetapi sebagai indikasi saja.

Pentinglah menyadari bahwa panggilan bukanlah suatu realitas statis, tetapi suatu realitas dinamis, dalam gerak perkembangan. Bukankah Allah tidak mewahyukan secara antisipatif tugas yang dipercayakan kepada manusia; tetapi Ia mewahyukannya kehendakNya secara progresif. Maka yang paling pokok adalah melihat tanda-tanda kehendak Allah itu dalam proses pencarian panggilan yang ditawarkan oleh Allah: Dialah pelakunya. Dia membuka diriNya dalam kehidupan setiap hari, merasuki perkembangan hidup rohani setiap orang dalam kehadiranNya.

Kehadiran panggilan tidak bisa ditunjuk atau didefinisikan secara jelas, karena bagaikan sesuatu yang menyatu dalam diri seseorang, sesuatu yang "semakin lebih", bukan sebagai sesuatu yang "selesai terbentuk". Panggilan lebih-lebih merupakan suatu realisasi diri seseorang secara progresif; bukanlah suatu program jadi, tetapi suatu cara tertentu dalam bertindak dan mengaktualisasikan diri dalam di hadapan Allah. Dalam arti ini, boleh dikatakan bahwa panggilan bukanlah fakta antisipatif. Seseorang perlu memahami dan memilih dari antara segala apa yang ada di hadapannya yang sesuai untuk menjadi dirinya yang seharusnya.

Hidup bukanlah sesuatu yang "selesai terbentuk". Dituntut suatu usaha, suatu pembaharuan terus menerus, suatu jawaban terus menerus untuk tetap beriman dalam setiap pilihan dasar yang telah diambil. Masalah panggilan atau verifikasinya tidak boleh dipersempit dalam arti psikologis yang memandang "dari sikapnya diketahui sedalam mana panggilan seseorang" atau "panggilan kita adalah sikap-sikap kita". Panggilan selalu berhubungan dengan rahmat yang muncul dalam gerak hati ilahi, atau biasa disebut juga sebagai undangan Allah; oleh karena itu tidak boleh dianggap sebagai milik, tetapi suatu rencana panggilan, sesuai dengan situasi konkrit sekarang, sesuai dengan nafas sejarah dan gerakan-gerakan yang ada. Bukanlah suatu pencarian pada masa lampau akan predestinasi, tetapi suatu pencarian tanda-tanda kehadiran dan kehendak Allah di dalam hal-hal yang sudah terjadi, untuk membangun masa depan. Dalam arti ini, orang-orang yang terpanggil, dalam kacamata psikologis dapat menangkapnya, sebagai gerakan hati terdalam yang dihimpunkannya secara progresif, dan dalam waktu kemudian, dalam perjalanan hidup, akan membentuk hidup seseorang.

Kehendak Allah tersingkap dalam suatu kerjasama yang terus menerus denganNya. Oleh karena itu, pendidikan manusiawi-kristiani di seminari menengah haruslah juga dalam pencarian secara bertahap, sesuai dengan tahap-tahap kedewasaan dan juga pendidikan. Saat yang sangat indah dalam perkembangan hidup seseorang adalah usia Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, baik dalam pengalaman hidup komunitas seminari, maupun dalam keputusan-keputasan yang pada umumnya harus diambil. Ada kerinduan spontan akan suatu kelompok, akan suatu cita-cita hidup, tanpa melupakan bahwa juga sering terjadi ketidakstabilan dan juga pengunduran diri.

Motivasi iman yang mendukung perjalanan komunitario memerlukan suatu kejelasan dan secara khusus usaha yang besar dalam membentuk team pendidikan yang solid. Dalam konteks yang sulit ini, relasi edukatif harus menghasilkan saat-saat "keputusan" yang penuh perhatian dan penuh hormat, tanpa adanya pemaksaan. Sikap pedagogis para pendidik hendaklah didasarkan pada pengenalan akan kaum muda itu sendiri sebagai subyek yang bertanggung-jawab, dalam suatu dialog dengan Allah; didasarkan pada pengenalan akan perkembangan manusiawi, kristiani dan panggilannya. Namun semua itu diwujudkan dalam suatu pendampingan penuh kasih dan hormat akan perkembangan tersebut, didukung oleh suatu tawaran yang bijaksana akan nilai-nilai panggilan dan oleh suatu penilaian akan perkembangan serta otentisitas mereka.

Berdasarkan keadaan khusus kondisi dan umur kaum muda yang menjadi sasaran pelayanan mereka, para pendidik seminari menengah hendaknya mendasari karya mereka dengan kesabaran dan kepercayaan kepada manusia dan Roh Kudus. Hendaknya karya para pendidik lebih menawarkan dan merangsang daripada menuntut, lebih menyemai dalam kelimpahan tanpa harus menjadi tidak sabar dalam penantian akan panenan, menyadari bahwa Tuhanlah yang menabur dan Dia jugalah yang mampu memberikan pertumbuhannya.

Dalam garis itulah seminari menawarkan program pendidikan dan latihan hidup rohaninya secara bertahap dan jelas. Dengan cara ini, yakni dengan memelihara perkembangan manusiawi mereka secara utuh dan hidup spritiualnya, kaum muda dibantu untuk menjadi layak mengikuti Kristus yang di dalamnya panggilan menemukan pertumbuhannya.

Oleh karena itu, segala tindakan edukatif hendaknya bersifat orientatif, yakni memandang panggilan imamat sebagai suatu tawaran. Diharapkan bahwa dalam seminari tinggi, panggilan itu akan dipelihara dengan yang lebih jelas dan lengkap, yang kepadanya akan diberikan Yesus Kristus imam dan gembala sebagai model.

Sejalan dengan orientasi Konsili, maka dibentuk kembali konsep tentang seminari menengah, yang dari segi fungsinya dinilai dan didefinisikan jelas berbeda dan distingtif dari seminari tinggi. Keperbedaan itu ditegaskan oleh Konsili dengan menyebutkan Kristus penyelamat sebagai modelnya (bukan Kristus imam dan gembala).

Seringkali seminari menengah dipandang bagaikan seminari tinggi "mini": dengan kedudukan tersendiri, superior sendiri, aturan sendiri, hanya dengan tekanan yang berbeda. Bahkan panggilanpun seringkali diandaikan seperti sudah ada, tinggal dipeliharan dan dikembangkan. Hal ini tentu saja mengakibatkan suatu suasana yang justru tidak mendukung perkembangan manusiawi yang harmonis dan kristiani setiap orang, karena mengabaikan keperbedaan dan kebutuhan fondamental sesuai dengan umurnya. Dengan mengacu pada dokumen-dokumen yang telah ada dan berdasarkan pengalaman para pelaku pendidikan sendiri, Konsili memberikan petunjuk dan orientasi baru yang tertuang dalam Optatam totius, yang kemudian diterima dan dikembangkan Ratio Fundamentalis dan Pastores Dabo Vobis.

Khususnya dalam dua dokumen pertama, nampaklah orientasi yang sangat bagus berkenaan dengan seminari menengah, dengan menempatkan pendidikan dalam suasana komunitas kaum muda. Seminari hendaknya dipahami sebagai komunitas kaum muda yang terbuka  melalui kontak dan keterkaitan dengan keluarga, dengan dunia kaum muda, hidup gerejani, dan masalah-masalah aktual jamannya.

Untuk membangun suatu komuntias yang lumayan homogen, tersiapkan sehingga juga lebih mendukung seluruh proses pendampingan, dalam seminari menengah hendaknya diterima mereka yang memang memiliki cita-cita untuk menjadi imam, atau nampak ada kemungkinan memilikinya, atau paling tidak menampakan keinginan itu walau kadang masih juga ada keraguan akan panggilan, tapi tetap tidak kehilangan harapan yang membawa mereka ke dalam imamat. Sebaliknya tertutup kemungkinanlah, seperti tersirat dalam KHK, untuk menerima di seminari menengah, mereka yang memang tidak punya rasa terpanggil menjadi imam sama sekali.

Pada awal hidup di seminari, sebenarnya cukuplah adanya disposisi (sikap dan kesediaan)  yang baik, yang memungkinkan untuk dipelihara. Para  pendidik memperkaya dan mengembangkan sikap tersebut, tanpa suatu penilaian yang mutlak, karena ini baru dasar bagi suatu tawaran dan verifikasi nilai-nilai dan sikap yang berkaitan dengan orientasi panggilan. Kehadiran anak yang tidak memiliki disposisi tersebut justru akan menghambat dan mengganggu seluruh proses. Oleh karena itu pentinglah bahwa sebelum masuk ke seminari, setiap anak diseleksi di dalam keluarga, berkaitan dengan kesehatan fisiknya, psikis-moral dan intelektual untuk melihat kelayakan mereka. Dalam beberapa keuskupan seleksi tersebut juga dijalankan secara tidak langsung dalam berbagai kegiatan panggilan, yang bisa berupa pertemuan berkala, kelompok-kelompok, latihan rohani, retret, camping sekolah, dan sebagainya yang bekerja sama dengan seminari.

Selain berfungsi sebagai tempat orientasi dan pendidikan, seminari menengah diharapkan untuk menciptakan fungsi pembebasan fondamental dari pengkondisian dan tawaran-tawaran budaya yang sering kali menyulitkan dalam suatu pilihan religius. Memang keluarga merupakan tempat pendidikan yang paling dasar dan utama, tidak ada institusi manapun juga yang bisa menggantikan peran pendidikan dalam keluarga ini. Akan tetapi kita tidak bisa juga menutup mata terhadap kenyataan bahwa banyak keluarga juga diwarnai oleh tekanan ideologis, ekonomis, sosial, serta kondisi jamannya, yang seringkali tidak menumbuhkan suasana yang mendukung tumbuhnya panggilan khusus. Dalam suatu kesempatan kunjungan ad limina para uskup Toscana, Paus Yohanes Paulus II mengingatkan "Hendaklah tidak....memandang rendah bahaya bagi ranting-ranting panggilan yang lembut, yang muncul dari suasana masyarakat sekolarisasi dan dari mentalitas permisif dalam kehidupan harian yang mencemari tidak sedikit keluarga kristen".

Disamping itu, dalam keadaan sekarang seminari menengah terpanggil untuk membantu kedewasaan psikologis setiap orang dan memulihkan kerapuhan-kerapuhan yang pada masa mendatang mungkin akan sulit disembuhkan. Oleh karena itu tepatlah dikatakan bahwa seminari menengah menjamin pada saat sekarang ini kondisi lebih layak untuk mempersiapkan imam-imam masa mendatang. Hendaknya seminari menawarkan suasana dan iklim persaudaraan yang damai; mengungkapkan suatu tawaran jelas akan radikalitas injili, doa, pelayanan gerejani, persahabatan mendalam dengan Tuhan, dengan tetap memperhatikan tahap perkembangan dan kedewasaan dalam umur evolutif. Dalam taraf tertentu menghadirkan dan merumuskan kembali secara terus menerus tawaran panggilan, sesuai dengan kenyataan budaya dan sosial yang terus-menerus berkembang, yang menciptakan dalam diri kaum muda sikap krisis dan tidak menentu.

Ada kesan menarik juga yang menyatakan bahwa ada perbedaan mendasar, yang seringkali tidak bisa diungkapkan secara persis, antara tipe imam yang mengalami perjalanan penuh melalui seminari menengah dari mereka yang langsung masuk sesudah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

Mengingat semua motivasi tersebut, dibanding institusi atau organisasi lain, maka pilihan untuk tetap menghargai dan mendukung seminari menengah sangatlah bijaksana dan menguntungkan. Fungsi pusat pendidikan ini menjadi penting oleh karena kesulitan yang dihadapi oleh keuskupan-keuskupan yang telah menutup atau tidak mempedulikan keberadaannya.

 

4. Keberatan

Sekarang marilah kita melihat dan mempertimbangkan juga beberapa keberatan yang ada akan keberadaan seminari menengah.

1) Ada orang yang beranggapan bahwa hanya semacam ilusi saja berbicara tentang panggilan imamat dalam umur 12 - 13 tahun. Dengan masuk ke seminari, maka kurang atau bahkan tidak ada penghormatan terhadap kebebasan kaum muda, karena masuk dalam suatu lingkungan yang mengarahkan atau bisa mengarahkan pilihan mereka secara dini. Benarkah? Mari kita lihat.

Rasanya tidak ada umur atau saat yang tertentu di mana Allah membuat suaraNya terdengar bagi mereka yang dipilihNya. Dia dapat memanggil, dan kenyataanya memang memanggil, setiap saat. Demikian juga kaum muda dan remaja dapat menerima tanda atau orientasi ke arah suatu panggilan khusus. Selain itu, promosi panggilan dalam umur tersebut selaras dengan psikiologi pra-remaja sebagai yang membutuhkan perhatian dan pertolongan. Tawaran panggilan dan pengalaman akan Yesus, di mana kaum muda diundang untuk mengalaminya, haruslah proporsional dengan umurnya.

Andaikata dalam umur pra-remaja dianggap terlalu muda untuk memutuskan  menjadi imam, namun bukankah tidak terlalu muda untuk memikirkannya. Keberatan biasanya berdasarkan pada asumsi teologis dan psiko-pedagogis tertentu seputar ada-tidaknya benih panggilan imamat dalam masa pra-remaja.

Banyak orang, bahkan para imam sendiri takut dan tidak mau mengadakan promosi panggilan, dengan alasan yang nampak baik yakni tidak mau membatasi kebebasan kaum muda. Namun bukankah tiadanya promosi panggilan juga menutup kemungkinan kebebasan seseorang dalam memilih. Salah satu tujuan seminari sendiri adalah menempatkan subyek ke dalam kondisi yang menguntungkan untuk memilih secara bebas akan masa depannya. Di antara banyak pilihan bebas itu, salah satunya adalah pilihan untuk menjadi imam atau biarawan. Akan tetapi pentinglah bahwa para pendidik tidak memberikan model-model jadi, melainkan membantu menyingkapkan proyek hidup, memperjelasnya, dan mengerahkan seluruh energi untuk mewujudkannya.

2) Beberapa faktor lain yang mengecilkan fungsi seminari menengah:

a) Adanya keyakinan yang berlebihan terhadap panggilan dewasa dan sebagai akibatnya timbul suatu sikap meragukan panggilan kaum remaja dan kaum muda. Banyak orang mengandaikan bahwa panggilan yang muncul ketika orang sudah dewasa, apalagi setelah berkerja dan mendapatkan kehidupan yang cukup, betul-betul merupakan keputusan yang sudah sangat matang, maka juga lebih ada jaminan kepastian.

Akan tetapi, seturut pengalaman tahun-tahun terakhir, panggilan dewasa dari dirinya sendiri tetap tidak memecahkan masalah kekurangan imam. Pertumbuhan mereka tidaklah menjadikan sarana-sarana normal lainnya, yakni kegiatan pastoral panggilan dan seminari menengah, menjadi tidak berguna lagi.

b) Adanya perbedaan pemahaman yang tidak terlalu tepat tentang seminari menengah. Sebagian (imam) berpendapat bahwa seminari menengah yang baik itu yang terbuka, dan sebagian lagi berpendapat sebaliknya. Nampaknya hal ini merupakan masalah sederhana, namun kalau tidak ada kesatuan pemahaman yang benar dapat mengacaukan orientasi dasar pendidikan seminari.

Jika kita memeriksa dari dekat kondisi kaum muda yang hidup di luar seminari, kita dapat segera melihat bahwa seringkali kebebasan mereka bukanlah kebebasan yang sejati. Bagaimanapun juga hidup mereka dikondisikan oleh mitos, mode dan jaman, diperbudak oleh insting, rasa-perasaan, kenyamanan, sarana dsb. Bahkan dalam banyak lingkungan masyarakat, beberapa nilai fondamental kehidupan seringkali diabaikan dan tidak dipedulikan lagi. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi memberikan pelayanan atau kondisi yang baik bagi kaum muda untuk dapat memilih secara bebas dan bagi proses kedewasaannya. Dalam konteks seperti itu, maka seminari menengah punya peran juga sebagai pelayanan positif kepada keluarga dan komunitas kristiana.

Seminari menengah membantu kaum muda bersikap lebih tepat dan dewasa terhadap tawaran-tawaran yang ada dalam masyarakat dengan menciptakan iklim yang tenang, hidup dan sehat. Iklim seperti itu menjauhkan orang dari pengaruh-pengaruh kebiasaan yang tidak sehat dan tidak kristiani yang menghambat tumbuhnya suatu panggilan. Untuk itu tentu saja dibutuhkan para pendidik yang tersiapkan dengan kemampuan ilmu pengetahuan keagamaan dan psikologis. Mereka hendaknya juga memiliki kemampuan cara mendidik dalam dan menuju kebebasan. Komunitas pendidik ini sebaiknya homogen dan stabil, untuk bisa membangun kerjasama yang konstan sehingga menghasilkan iklim spiritual dan kultural di mana para seminaris bisa berkembang.

Sebagai sintesi, kami ingin menunjukkan bahwa iklim pendidikan seminari menengah ditandai oleh beberapa orientasi:

Pertama-tama, dalam komunitas seminari ada jaminan bahwa setiap orang tetap bebas mencari panggilannya masing-masing, jangan merasa ditentukan harus ke imamat,  namun paling tidak juga telah memiliki keinginan ke arah itu. Perlu disadari pula akan adanya pluralitas disposisi masing-masing anak, yang di dalamnya, anak dapat menemukan panggilannya, dan hendaknya diperhitungkan juga dinamika sikap kaum muda. Oleh karena itu, para pendidik diharapkan menghormati setiap orang, tidak membanding-bandingkan satu sama lain; tidak menganggap perubahan idea atau cita-cita sebagai pengkhianatan. Mereka membantu setiap orang untuk menghayati kemampuan personal  dalam mendalami panggilan secara terus-menerus dan mengambil keputusan secara bebas.

            Untuk dapat menciptakan suasana yang bisa menjawab kebutuhan kaum muda, Konferensi Para Uskup Italia menetapkan bahwa kelompok pendidik seminari menengah, sesuai dengan ukuran seminari sendiri, lebih menguntungkan jika terdiri dari para imam dan anggota umat Allah yang lain. Keaneragaman itu, yang berarti juga mencakup kehadiran pendidik wanita, akan dapat lebih menjamin kealamiahan dan lebih lengkap karya pendidikan di seminari.  

 

III. PROGRAM KERJA PENDIDIKAN SEMINARI

 Untuk membangun suatu komunitas seminari yang teratur diperlukan adanya program pendidikan dengan suatu arah yang memperhitungkan adanya pilihan bebas dalam panggilan, relasi antar pribadi yang nampak dalam kepercayaan kekeluargaan setiap anak kepada para stafnya, dan dalam relasi persaudaraan satu sama lain; suatu program pendidikan utuh, atau program hidup, yang harus dipahami setiap anak, diterima, dan melaksanakannya secara bertanggung jawab dengan bantuan rahmat Allah, bantuan para staf  serta dukungan seluruh komunitas. Program ini mencakup:

1) aspek peraturan, untuk menjamin keteraturan jalannya komunitas dengan suatu peraturan yang dituntut dalam hidup bersama dan perlu untuk mengikis individualisme dalam relasi dengan orang lain; dan juga untuk menciptakan suasana ektern yang kondusif bagi pertumbuhan sesuai dengan tahap kematangan sesuai dengan umurnya.

2) Aspek spiritual, untuk perkembangan iman dan hidup kristiani, sehingga semakin terbuka terhadap panggilan.

3) aspek budaya, untuk perkembangan pengetahuan dan kemampuan penggunaan akal budi. Sekolah sebagai saat pendidikan, hendaknya menyesuaiakan diri dengan konteks setempat, namun juga harus mampu mengekspresikannya dalam konteks pendidikan global.

4) fisik-psicologis, untuk perkembangan harmonis dalam kepribadian setiap orang.

 

1. Perencanaan hidup berkomunitas

Sesudah konsili Vatican II, seminari yang masih hidup mengolah suatu proyek global pendidikan dalam suatu pembaharuan terencana, dengan usaha yang sering kali sangat melelahkan, bahkan tidak mengenakkan, yang menyentuh secara mendasar perumusan hidup berkomunitas:

1) dari skema yang kaku ke dalam suatu skema yang memungkinkan praktek secara bertahap kebebasan seseorang dan kelompok, dengan tetap memegang beberapa prinsip pokok.

2) diwujudkan suatu komunitas yang terbuka: tidak hanya protektiv dan mandiri, tetapi mampu bekerja sama dengan keluarga, paroki, gerakan pastoral kaum muda, sekolah, mass media, dengan siap juga menerima resiko keterbukaan tersebut.

3) hidup berkomunitas diatur oleh para pendidik dan semua anggota, dan disesuaikan dengan keadaan yang berbeda-beda.

 

Dua hal pokok yang disimpulkan: perwujudan hidup komunitas ke dalam kelompok-kelompok dan kehadiran para imam sebagai animator.

Bagi anak-anak sekolah menengah, kelompok mempunyai peran yang penting, yakni membantu seseorang untuk mengekspresikan interese dan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan umur mereka.

Dalam tahun-tahun pertama sekolah menengah tingkat atas, kelompok terutama menjadi suatu sarana untuk memenuhi kerinduan akan persahabatan dan untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sekitar kehidupan.

Bagi anak-anak yang lebih besar lagi, melalui dialog dan keberadaannya dalam suatu komunitas, mereka ingin melatih diri dalam sikap tanggungjawab dan inisiatif.

Kehidupan seminari "ad extra" terbuka khususnya terhadap keluarga dan paroki. Pertama-tama membangun relasi dengan keluarga, dengan mengusahakan suatu kerjasama aktif dan saling melengkapi dalam proyek pendidikan, dengan memberikan informasi tentang perkembangan pendidikan anak dan hasil studi mereka.

Dijalin juga relasi terus menerus dengan paroki dan komunitas kristiani yang mendukung keluarga dalam perkembangan pengalaman iman dan kasih setiap orang. Pertama-tama adalah hubungan dengan pastor paroki, sebagai pihak yang mengenal tahap-tahap perkembangan iman calon. Pastor paroki memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap para calon, melalui kehadiran, nasihat dan dorongan.

Dalam komunitas parokial, kaum muda menjumpai dan mengalami berbagai macam bentuk panggilan, yang melaluinya diwujudkan tanggung jawab kristiani, dan dalam pengalaman itu dimungkinkan pendalaman akan panggilannya sendiri dalam suatu kebebasan.

Dalam masa liburan panjang, hubungan dengan keluarga dan paroki hendaknya diberi tempat yang semestinya. Mereka dapat tinggal dalam keluarga, mengadakan kamping, pertemuan kelompok doa dan sharing, yang mendukung dan meneguhkan iman dan kesetiaan mereka dalam tugas.

 

2. Proses formasi spiritual.

Ditandai oleh gradualitas dan kekhususan, sesuai dengan umur masing-masing:

1) dengan tetap menjaga struktur pokok masa lampau, setiap orang dibantu untuk memulai menemukan roh belas kasih, melalui suatu metode pendidikan vital dan aktif. Belaskasih dihadirkan sebagai suatu penghayatan dan pencarian akan Kristus.

2) Kristus dihadirkan bagaikan sahabat dan guru, dan panggilan sakramen baptis meruapakan akar yang darinya disingkapkan setahap demi setahap panggilan khusus.

3) ditawarkan lebih banyak suatu katekese dan kontak dengan Sabda Allah, dengan dibacakan, dimeditasikan, dikomentari, didiskusikan, agar dapat diteruskan dalam penghayatan dalam kehidupan harian yang nyata.

4) didukung keikutsertaan aktif dan sadar ke dalam pengamalan cinta kasih,

5) dilatih permulaan secara bertahap dalam doa pribadi dan komunitas melalui suatu pendidikan dalam hidup liturgi dan masuk ke dalam bimbingan rohani secara pribadi (direksio spiritual).

6) menumbuhkan kepekaan akan makna hidup yang dihayati sebagai anugerah Tuhan agar berbuah dan bagaikan anugerah untuk ditawarkan kepada orang lain; dalam kedewasaan sikap persembahan diri, panggilan diperkaya oleh kemurahan hati.

7) dibangun ketajaman kepekaan setiap orang akan kebutuhan Gereja dan penderitaan manusia.

Pada permulaan di seminari bimbingan rohani (direksio spiritual) meruapakan sarana yang berharga untuk membantu anak dalam mengolah berbagai macam pengalamannya, yang terarah kepada perkembangan manusiawi dan kristiani dalam kerangka panggilan imamat.

Bimbingan rohani hendaknya sudah diberikan sejak awal, sesuai dengan tahap perkembangan fisik, psikologis, dan intlelektual-spiritual anak. Masalah-masalah yang berkatian dengan kaum muda hendaknya mendapat perhatian yang semestinya.

Perlu juga memberi perhatian pada masalah pendidikan seksualitas dan cinta manusiawi. Seksualitas merupakan unsur penting dalam kepribadian, dalam cara berada, cara berkomunikasi dengan yang lain, merasa, mengekpresikan diri, dan menghayati cinta manusiawi. Seksualitas hendaknya dipandang sebagai bagian integral perkembangan pribadi manusia itu sendiri dan bagian dari proses pendidikan.

Oleh karena itu, pendidikan seksualitas tidak disingkirkan, tetapi dimasukkan bersama dalam pendidikan. Disampaikan dalam suatu proses lengkap, yang mencakup segenap dinamika seseorang, dengan tujuan mewujudkan kematangan afektif, penguasaan diri dan kebiasaan yang benar dalam relasi sosial. Setiap pendidik biasanya mempunyai konsep tertentu (antropologi) tentang manusia. Mereka yang memiliki pandangan tentang manusia secara kristiani-global, akan menjabarkan cinta tidak lepas dari logika bahwa  pendidikan seksualitas tidak lepas dari iman.

  

3. Sekolah

Aspek budaya dalam pendidikan berkaitan dengan lembaga sekolah. Seiring dengan perkembangan jaman dan pendidikan, seminari juga banyak mengalami perubahan, yang menyangkut sistem, materi, dan juga suasana pendidikan.

 Pertimbangan  dalam suatu pilihan (kalau bergabung ke sekolah umum).

 Agar program pendidikan seminari menengah dari waktu ke waktu dan secara bertahap terarah untuk mendukung pendidikan manusiawi, budaya dan spiritual yang memimpin kaum muda melangkah ke jenjang seminari tinggi dengan dasar yang memadai dan kokoh (PDV 63), seminari menengah hendaknya menyelaraskan diri dengan program itu; dibutuhkan sekolah yang menemukan animasinya yang mendasar dalam perspektif kristiani, yang tidak harus dibatasi dalam pelajaran agama saja, sedemikian sehingga kesempatan sekolah memberikan sumbangan khusus dalam perkembangan kristiani dan panggilan. Sebagai konsekuensinya, sekolah yang melalaikan dimensi religius seseorang, atau tertutup akan transendensi, atau tidak memperhitungkannya, tidak masuk dalam pertimbangan, kecuali dalam kasus khusus.

Maka akan lebih baiklah apabila setiap seminari mempunyai sekolahnya sendiri, yang terbedakan untuk suatu kualifikasi khusus: yakni memiliki kaitan integral dengan seluruh kehidupan dan aspek keseluruhan dari suatu seminari, yang tidak hanya bermaksud mencapai tujuan panggilan, tetapi memberikan kemungkinan untuk berkembang secara berkelanjutan dalam harmonisasi dengan diri sendiri.

Bagi kebanyakan pendidik, lembaga seminari tidak memenuhi fungsinya jika dibatasi pada kurikulum sekolah umum saja. Sekolah umum hanyalah menawarkan dasar minimal umum bagi perkembangan budaya dan kemasyarakatan demokratis; sedangkan sekolah seminari, tanpa harus kehilangan keasliannya dalam cara dan isi (segi ilmiah), -dengan segala kekayaan dan keseriusan tradisi pedagogis suatu sekolah, harus memasukkan dalam struktur pendidikan suatu sistem yang di dalamnya keluarga dan Gereja setempat turut berperan serta. Dengan demikian sekolah seminari akan menerima suatu posisinya yang tepat, ideal dan pedagogis, dengan suatu rencana pendidikannya yang sesungguhnya, yang dibangun berdasarkan sintese antara iman dan budaya, dan antara iman dan hidup. Itulah satu dari pelayanan pokok yang dapat ditawarkan seminari menengah sebagai faktor perkembangan dan penyucian pribadi.

Dalam suasana pendidikan seperti itu diharapkan dapat mendukung kemampuan setiap orang untuk mengungkapkan pilihan bebas, dan membantunya memperjelas dan memverifikasi, lebih-lebih membangun dasar bagi permulaan rencana hidupnya, yang lahir dari ketertarikan akan suatu nilai tertentu dalam panggilan.

Penggabungan suatu seminari ke dalam suatu sekolah umum masih perlu didiskusikan masak-masak untung ruginya. Kebanyakan orang tidak menyetujuinya, kecuali dalam keadaan dan situasi khusus. Namun tidak sedikit pula keuntungannya, yakni memberikan pengalaman “normal” dengan teman-teman sebaya mereka, menghayatinya dengan spontan, diharapkan dapat memberikan kesempatan dalam proses pendewasaan secara normal bagi setiap orang, dengan memberikan kesempatan lebih banyak dalam dialog dan kerjasama. Demikian juga kehadiran teman-teman wanita dalam sekolah dapat memberikan sumbangan yang positif.

Pada umumnya akan lebih menguntungkanlah bila seminari mempunyai sekolah sendiri, namun tetap terbuka terhadap “dunia” luar. Keterbukaan ini tidak hanya sebatas sekedar pada kepentingan ekonomi. Dari beberapa uraian tersebut di atas, kiranya dapat ditarik beberapa point yang harus dipertimbangkan berkaitan dengan penggabungan dengan sekolah umum:

  • Kehidupan khas seminari sendiri perlu ditingkatkan dan ditekankan, sedemikian rupa sehingga di dalamnya setiap orang menemukan inti hidupnya, suatu komunitas yang menjadi acuan dan dasar hidup harian;
  • kesempatan untuk meningkatkan suatu dialog dari hati ke hati antara para seminaris dengan para staff dan pendidik, khususnya dengan mereka yang memiliki “rasa”  nilai-nila kristiani.
  • Perlunya suatu organisme kelembagaan yang aktiv.
  • Penting juga kehadiran iman dari seminari di dalam sekolah tersebut, baik sebagai pengajar tapi sekaligus juga dengan mengadakan suatu kerjasama dengan para guru agamanya;
  • Tidak hanya memberikan keseimbangan dalam hal ilmu pengetahuan, yang memang perlu untuk studi lanjut dalam filsafat-teologi, namun hendaknya sekolah tersebut memiliki wawasan kristiani dan panggilan yang jelas.

 

IV. PENUTUP DAN REFLEKSI

Ya ditutup dan direflesikan sendiri saja. Bukankah akan lebih kaya?