Kita yang kelak menjadi pemimpin banyak umat sudah tentu harus memiliki sikap sopan dan ramah agar terjalin relasi yang baik dan akrab dengan umat. Jika tidak demikian Gereja akan runtuh, dalam arti kebanyakan anggota Gereja meninggalkan imannya karena pemimpinnya yang sombong dan tidak mencerminkan sikap kepemimpinan uang baik. Eits,,,,, tunggu dulu, kita tidak perlu memikirkan yang jauh-jauh. Kita sekarang hidup sebagai seminaris, seharusnya sudah memiliki kesadaran dan praktek hidup yang benar menyangkut 3S.
Yesus juga mengajarkan kepada kita bagaimana sikap menyapa orang lain. Jangan kita menunggu, ucapkanlah salam lebih dahulu kepada sesama kita dimanapun kita berada. namun kita harus siap dan sabar bahwa membawa atau meberi sapaan itu tidak mudah. Banyak rintangan yang mencoba untuk menghentikan niat baik kita. Penolakan dan ejekan pun terkadang mampu melemahkan semangat kita. tak jarang juga ketika kita memberi salam atau senyum tidak mendapat respon yang baik.
“Jatuh, bangkit lagi” Hal ini harus tertanam dalam diri kita. semangat yang kuat dan keyakinan bahwa yang kita sapa adalah Tuhan akan membawa kita pada keberhasialan. Kita harus sadar bhwa Tuhan juga berkarya dalam diri kita sehingga kita tidak menjadi takut melainkan berani.
Kemalasan juga mampu menjadi hambatan dalam segala hal, oleh sebab itu kitya harus menghilangkan rasa malas dalam diri. Sikap malas memang sangat mudah menjalar ke semua individu tidak mengenal umur dan tempat. Apa tugas kita? membiarkan sikap malas supaya dapat berkembang? Tentu tidak.
Jika kemalasan dan fator-faktor dari luar sudah dapat teratasi maka kita akan mampu untuk memberikan senyum termanis, sapaan terbaik dan tentunya juga salam yang terindah.